Selamat Datang

Di sini Anda dapat membaca berita tentang Maluku yang dibuat oleh LKBN ANTARA. Seluruh berita dilindungi UU Hak Cipta dan karenanya tidak diperkenankan untuk disiarkan kembali melalui media apapun tanpa izin tertulis dari LKBN ANTARA.

Minggu, 08 Mei 2011

Radikalisme di Indonesia Sudah Tingkatan Lampu Merah

Denpasar (KM) - Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Ir Ugik Kurniadi, MT mengatakan, radikalisme di Indonesia sudah berada pada tingkatan lampu merah atau sangat membahayakan.

"Radikalisme bisa menyebabkan hilangnya karakter bangsa kita yang dikenal toleran, ramah, dan religius," katanya saat memberikan sambutan dalam seminar dan Konferensi Daerah Persatuan Alumni GMNI Bali di Denpasar, Minggu.


Menurut dia, akhir-akhir ini semakin sering bangsa Indonesia dilanda kegiatan-kegiatan yang bersifat destruktif dan radikalisme. Gerakan tersebut bahkan telah merusak tatanan bangsa serta mulai menjamah kaum muda.

Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil survei yang dilakukan Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian menyebutkan bahwa lebih dari 49 persen pelajar di Jakarta dan sekitarnya, cenderung setuju menempuh aksi kekerasan untuk menyelesaikan masalah agama dan moral.

"Dengan melihat fakta yang ada itu, maka dapat dikatakan radikalisme sudah pada tingkatan lampu merah," ucapnya.

Kurangnya komunikasi dari pimpinan kepada masyarakat, kata Ugik, juga dapat memunculkan gerakan radikalisme. Oleh karenanya seorang pimpinan perlu melakukan komunikasi dan mengajak bicara masyarakat mengenai kebijakan-kebijakannya.

"Sejatinya Indonesia juga memiliki konsep kearifan lokal dalam penyelesaian masalah yaitu melalui musyawarah mufakat, namun dalam aplikasinya musyawarah kini hanya dijadikan salah satu alternatif. Di sisi lain demokrasi yang liberal telah menggerus keberadaan budaya dan kearifan lokal," katanya.

Untuk menanggulangi radikalisme, lanjut dia, diperlukan penanganan yang komprehensif. Salah satu cara menangkalnya dengan tetap menjaga dan berpegang teguh pada empat pilar kehidupan bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.

"Pilar ini ibaratnya sebagai tiang penyangga suatu bangunan agar bisa berdiri dengan kokoh. Begitu juga dengan empat pilar tersebut dapat mengokohkan kepribadian bangsa dan kaum muda agar dapat terhindar dari radikalisme," katanya.

Sementara Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat membuka acara itu berharap agar ajang pertemuan ini dapat dijadikan momentum evaluasi sekaligus meningkatkan kinerja organisasi GMNI sebagai bagian dari komponen masyarakat serta partisipasinya dalam pembangunan daerah.

"Jiwa progresif sebagai identitas generasi muda nasionalis tetap harus ditumbuhkan dan dikembangkan meluas ke seluruh lapisan masyarakat. Saya juga mengharapkan GMNI dapat memberikan solusi dalam menjawab berbagai persoalan yang terjadi di tanah air, akibat dampak perubahan yang begitu cepat," imbuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar